| Issue | Vol. 5 No. 1 (2025) |
| Release | 20 October 2025 |
| Section | Articles |
Sentra produksi gula semut tradisional di Desa Pernasidi, Banyumas, menghadapi tantangan serius terkait aspek higienitas produk. Lingkungan produksi yang terbuka dan minim sanitasi berdampak pada kualitas dan keamanan pangan, sehingga membatasi akses pasar, terutama ke ritel modern dan ekspor. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan standar kebersihan produksi melalui implementasi dapur bersih (clean kitchen) yang dirancang sesuai dengan prinsip sanitasi pangan dan efisiensi kerja. Metode pelaksanaan dilakukan melalui pendekatan partisipatif, meliputi pelatihan mitra, pembangunan prototipe dapur bersih berbahan material lokal yang mudah dibersihkan, serta evaluasi dampak melalui uji visual dan organoleptik terhadap produk. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penggunaan dapur bersih mampu menurunkan kontaminasi silang, meningkatkan kualitas visual gula semut, dan mendapat respons positif dari pelaku UMKM dan stakeholder lokal. Selain itu, kegiatan ini juga memicu kesadaran pentingnya keamanan pangan di kalangan petani dan produsen. Kesimpulannya, intervensi dapur bersih berkontribusi signifikan dalam meningkatkan daya saing produk lokal dan merupakan langkah awal menuju sertifikasi halal dan PIRT. Ke depan, model ini dapat direplikasi ke wilayah sentra produksi lain dengan penyesuaian lok.
Keywords: clean kitchen, coconut sugar, community empowerment, food hygiene, rural innovation, traditional production
